ROKOK ‘Sang Pembunuh’.
KEPADA ROKOK
Peringatan Pemerintah :
“Merokok dapat menyebabkan kanker,
serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin”
Kamu pasti tahu kalimat di atas. Kalimat
ini sering muncul di setiap iklan rokok ditampilkan di media elektronik
ataupun media massa. Secara prinsip marketing, isi kalimat itu
sebenarnya bertentangan dengan pesan yang ingin disampaikan oleh produk
itu sendiri. Di satu sisi ingin mengiklankan produknya, tapi di sisi
lain ada statement bahwa jika kamu mengkonsumsi produk tersebut kamu
akan sakit jantung, impotensi, dan lain-lain. Lantas, apakah konsumen
tidak jadi membelinya karena tulisan tersebut? Jangan salah. Nilai jual
produk ini (=rokok) justru sangat tinggi, khususnya konsumen laki-laki.
WHO melansir bahwa konsumsi tembakau di negara berkembang mengalami
kenaikan setiap tahunnnya, yaitu 68% pada 1996, menjadi 72% pada 2001.
Ini sepertinya terbukti dengan promo ataupun iklan-iklan rokok di
Indonesia yang sangat mendominan. Mulai dari iklan TV di jam-jam
premier, hingga sponsor di event-event besar. Mungkin bisa jadi
Indonesia akan sepi jika tidak ada sponsor dari produk rokok ini. Lihat
saja, hampir semua acara-acara entertainment, olah raga, hingga
beasiswa, banyak disponsori oleh produk rokok. Maka jangan salah jika
rokok memberikan kontribusi signifikan kepada negara, misalnya saja
cukai. Pada tahun 2004 cukai rokok sebesar Rp. 27 trilyun (Majalah
Tarbawi, 17/03/05). Belum lagi kontribusi terhadap sektor pertanian dan
tenaga kerja. Akan tetapi, ternyata Pemerintah juga harus ’rela’
membayar biaya kesehatan 3 kali lipat dari ’keuntungan’ yang didapatkan,
akibat dampak yang ditimbulkan. Lantas, pantaskah paru-paru bapak atau
janin ibu kita ’ditukar’ dengan ’sesajen’ keuntungan rokok?
Ataukah belum cukup dengan data bahwa
90% kanker paru pada laki-laki disebabkan rokok, dan 70% untuk
perempuan? Dan penyakit kanker mulut, kanker bibir, asthma, kanker leher
rahim, jantung koroner, darah tinggi, stroke, kanker darah, kanker
hati, bronchitis, kematian mendadak pada bayi, bahaya rusaknya kesuburan
bagi wanita dan impotensi bagi kaum pria, belum cukup membuat badan
sang perokok bergetar? Jika jawabannya adalah : it’s fine, maka
bagaimana dengan sang perokok pasif alias orang yang ’dipaksa’ menghisap
asap rokok sang perokok?
Sang perokok hanya menghisap 15% asap rokok, sedangkan sisanya, 85%, oleh perokok pasif. Atau seperti yang dituturkan dokter spesialis paru yang juga Ketua III Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3), Tjandra Yoga Aditama, asap rokok yang terpaksa dihisap perokok pasif kandungan bahan kimianya lebih tinggi dibandingkan dengan asap rokok utama. Hal ini dikarenakan tembakau terbakar pada temperatur lebih rendah ketika rokok sedang dihisap, dan membuat pembakaran menjadi kurang lengkap dan mengeluarkan banyak bahan kimia. Bahkan beliau menyebutkan bahwa pengaruh asap rokok pada perokok pasif itu tiga kali lebih buruk daripada debu batu bara.
Sang perokok hanya menghisap 15% asap rokok, sedangkan sisanya, 85%, oleh perokok pasif. Atau seperti yang dituturkan dokter spesialis paru yang juga Ketua III Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3), Tjandra Yoga Aditama, asap rokok yang terpaksa dihisap perokok pasif kandungan bahan kimianya lebih tinggi dibandingkan dengan asap rokok utama. Hal ini dikarenakan tembakau terbakar pada temperatur lebih rendah ketika rokok sedang dihisap, dan membuat pembakaran menjadi kurang lengkap dan mengeluarkan banyak bahan kimia. Bahkan beliau menyebutkan bahwa pengaruh asap rokok pada perokok pasif itu tiga kali lebih buruk daripada debu batu bara.
Jika Peringatan Pemerintah di atas
adalah kata-kata yang tak berarti, dan ancaman penyakit akibat rokok
adalah angin lalu, lantas dianggap apa manusia-manusia ’tak berdosa’
yang terpaksa menghisap asap rokok itu?
Kampanye anti rokok sudah banyak
digencarkan baik oleh pemerintah maupun non-pemerintah (LSM). Peraturan
Daerah tentang larangan merokok di tempat umum juga sering kita dengar.
Akan tetapi, ’keputusan besar’ itu tetap berada di tangan pengguna.
Masih sayangkah ia kepada paru-parunya yang semakin memburuk padahal itu
diberi Tuhan secara gratis? Masih relakah ia ’membunuh’ teman-teman di
sekelilingnya dengan ’senapan’ asapnya? Masih inginkah ia terus ditemani
oleh ’sang kekasihnya’, rokok, hingga akhir hayatnya? Sekali lagi,
jawabannya hanya ada pada hati nurani sang pengguna. Dan hati nurani
takkan pernah dusta.

0 komentar:
Posting Komentar